aku tak tahu
keman jika hilang
mencari di langit-langit
mengais disisa hari
aku berharap
aku meminta
jangn hilang
tumbuhkan untukku cinta
Link ke posting ini
biarkan badai menerjang
kini,
gulungan ombak menghentakku berkali
aku tak ingin bergeming
biarkan nikmat cinta ini membelaiku
menebarkan wewangian cahaya
lewat serpihan yang akan dibenahi kembali
Link ke posting ini
kini,
gulungan ombak menghentakku berkali
aku tak ingin bergeming
biarkan nikmat cinta ini membelaiku
menebarkan wewangian cahaya
lewat serpihan yang akan dibenahi kembali
aku rindu cahaya mataku
sebelum matahari menyentuh kulitnya
aku harus banyak meminta, mengeluh
kesahku akan menyempurnakan hakku
aku akan membakar bibir dengan sumbatan air mata
menati cahaya mataku
Link ke posting ini
sebelum matahari menyentuh kulitnya
aku harus banyak meminta, mengeluh
kesahku akan menyempurnakan hakku
aku akan membakar bibir dengan sumbatan air mata
menati cahaya mataku
Awal akhirnya menemukan tujuannya
Akhir menjelma, mengganti tawa
Melukiskan sepi lewat air mata
Kemarin adalah taman bunga
Wangi kuntum merebak dalam nuansa
Kini adalah taman bunga
Wangi kuntum sirna tertelan masa
Aku dalam diriku
Kamu dalam dirimu
Link ke posting ini
Akhir menjelma, mengganti tawa
Melukiskan sepi lewat air mata
Kemarin adalah taman bunga
Wangi kuntum merebak dalam nuansa
Kini adalah taman bunga
Wangi kuntum sirna tertelan masa
Aku dalam diriku
Kamu dalam dirimu
: sri haryani
Sepasang mata bening
Beradu senyum dalam malu – malu
Dalam terik yang terhidang
Siang menyentuh jiwa – jiwa dalam tatapan mesra
Kita terlarut dalam perasaan – perasaan yang menurut kewajaran
Jejak – jejak tersita jarak
Waktu menuntut untuk mengerti, sedangkan rasa kian menghampa
Kita bertemu, beradu, namun tak menyatu
: taman bunga telah terhampar dihadapan kita, kaki kita tinggal melangkah
kenangan telah menghidangkan setumpuk kerinduan
tapi kita kalah, tak sempat hati menyatu
ragu telah menyita senyum tawa, harapan untuk menamai perasaan kita
menghampa
aku larut
engkau terhanyut
Link ke posting ini
Sepasang mata bening
Beradu senyum dalam malu – malu
Dalam terik yang terhidang
Siang menyentuh jiwa – jiwa dalam tatapan mesra
Kita terlarut dalam perasaan – perasaan yang menurut kewajaran
Jejak – jejak tersita jarak
Waktu menuntut untuk mengerti, sedangkan rasa kian menghampa
Kita bertemu, beradu, namun tak menyatu
: taman bunga telah terhampar dihadapan kita, kaki kita tinggal melangkah
kenangan telah menghidangkan setumpuk kerinduan
tapi kita kalah, tak sempat hati menyatu
ragu telah menyita senyum tawa, harapan untuk menamai perasaan kita
menghampa
aku larut
engkau terhanyut
Perputaran detik menghidangkan sepi dalam
Jiwaku, terlupa aku akan riuh
Senyum tawa terlupa, luka
Bagai mengiris, dalam
Hampa
Aku berada disebuah rumah sepi
Tanpa penghuni yang biasanya
Memetik senyum
Menyuguhkan secangkir kemesraan dalam jengkal laku
Entah, kemana perginya cahaya itu
Padahal malam telah mengikat hampa
Membiarkan air mengalir dalam dahaga
Larutkan sepi bersama hujan yang baru reda
Dalam perputaran detik
Masih saja sepi di rumah ini
Entah kapan semua kembali
Secangkir kemesraan, senyum tersaji
Esok, lusa, entah…
Link ke posting ini
Jiwaku, terlupa aku akan riuh
Senyum tawa terlupa, luka
Bagai mengiris, dalam
Hampa
Aku berada disebuah rumah sepi
Tanpa penghuni yang biasanya
Memetik senyum
Menyuguhkan secangkir kemesraan dalam jengkal laku
Entah, kemana perginya cahaya itu
Padahal malam telah mengikat hampa
Membiarkan air mengalir dalam dahaga
Larutkan sepi bersama hujan yang baru reda
Dalam perputaran detik
Masih saja sepi di rumah ini
Entah kapan semua kembali
Secangkir kemesraan, senyum tersaji
Esok, lusa, entah…
aku merenung setelah rindu
tak jua bibir mengucap
buah rindu kian nyata
sepasang sinar akan menyala
menerangi dengan cinta
buah rindu
setelah rindu
kuyakin cinta kian membara
Link ke posting ini
tak jua bibir mengucap
buah rindu kian nyata
sepasang sinar akan menyala
menerangi dengan cinta
buah rindu
setelah rindu
kuyakin cinta kian membara
